Jumat, 28 Februari 2020

Teks Cerita Sejarah : Struktur isi, kaidah kebahasaan, ciri, kata istilah, pengertian dan contoh tekst cerita sejarah

Kali ini saya akan menjelaskan secara lengkap mengenai teks cerita sejarah, apa yang akan saya uraikan di artikel kali ini menyangkut, pengertian teks cerita sejarah, karakteristik atau ciri, struktur isi, kaidah kebahasaan dan unsur lainnya yang terdapat dalam teks cerita sejarah.

Teks cerita sejarah adalah salah satu materi pokok pelajaran bahasa indonesia kurikulum 2013 yang dipelajari di kelas XII.  materi ini perlu dipelajari agar siswa mampu mengenal struktur isi teks cerita sejarah, mengenal ciri bahasa  teks cerita sejarah, mengenal kaidah teks cerita sejarah, memahami isi teks cerita sejarah, serta mampu mempelajari makna kata, istilah, ungkapan dalam teks cerita sejarah.

Di artikel kali ini saya akan jelaskan secara lengkap mengenai teks cerita sejarah sehingga bisa dijadikan referensi untuk anda yang kebetulan ingin mempelajari teks cerita sejarah, di artikel kali ini juga saya akan jelaskan mengenai pengertian dari teks cerita sejarah, dan juga contoh teks cerita sejarah sehingga anda mampu membuat sendiri paragraf teks cerita sejarah dengan melibatkan unsur-unsur dan juga kaidah kebahasan teks cerita sejarah.


Kali ini saya akan menjelaskan secara lengkap mengenai  Teks Cerita Sejarah : Struktur isi, kaidah kebahasaan, ciri, kata istilah, pengertian dan contoh tekst cerita sejarah

Pengertian Teks Cerita sejarah

Text cerita sejarah adalah text yang didalamnya menjelaskan dan menceritakan tentang kejadian fakta masa lalu yang menjadi asal-muasal atau latar belakang terjadinya sesuatu yang memiliki nilai kesejarahan baik naratif maupun deskriptif.


Struktur isi teks cerita sejarah

Untuk lebih mudah memahami dan membuat teks cerita sejarah maka salah satu yang harus dipahami adalah struktur isi teks cerita sejarah, struktur teks adalah kerangka acuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan teks menjadi paragraf utuh, struktur teks cerita sejarah memang berbeda dengan teks biasa, teks cerita sejarah pada umumya memiliki struktur isi yang berorientasi pada cerita sejarah,berisi rangkaian peristiwa yang diikuti oleh re orientasi.


1. Judul, merupakan  kata kunci yang mewakili keseluruhan isi cerita, pada teks cerita sejarah judul dapat berupa nama tempat, benda peristiwa dan lain sebagainya, biasanya di awali dengan kata asal mula, asal usul, sejarah dan kata lainnya yang mendukung bahwa isi cerita mengandung nilai keseharahan.

2. Pendahuluan atau orientasi
Pendahuluan atau orientasi adalah pembuka atau pengantar pembicaraan sehingga pembaca tidak langsung di bawa pada inti cerita yang dibahas, pendahuluan ini bisa kita isi dengan pengenalan awal peristiwa sejarah, pendahuluan ini bersifat opsional artinya boleh tidak dilibatkan didalam teks.

3. Rekaman peristiwa
Ini adalah bagian dari teks yang merupakan inti dari teks cerita sejarah, pada bagian rekaman peristiwa sejarah ini di uraikan secara lengkap dari mulai awal sampai akhir secara kronologis.

4. Penutup atau reorientasi
Berisi cerita akhir atau kesimpulan dari paparan yang diceritakan sebelumnya, pada umumnya  berupa akibat atau konsequensi  dari rangkaian peristiwa sebelumnya, seperti misalnya kekalahan, kemenangan atau kematian dan bisa juga berisi komentar penulis atau evaluasi dari peristiwa.


Ciri Kebahasaan Teks Cerita Sejarah

1. Konjungsi temporal
Konjungsi temporal adalah kata hubung yang menghubungkan dua kejadian atau peristiwa, konjungsi temporal dibagi kedalam beberapa jenis diantaranya adalah:
  • Konjungsi temporal yang menghubungkan dua hal sederajat misalnya apabla, bilamana, demi, hingga ketika, sejak, selama, semenjak sementara, tatkala, waktu, setelah, sesudah dan sebagainya.
  • Konjungsi temporal yang menghubungkan dua buah kalimat yang sederajat, yang termasuk kedalam konjungsi temporal ini diantaranya adalah setelahnya dan sesudahnya.
2. Nomina / kata benda
Untuk nomin dibagi menjadi 3 kelompok yaitu sebagai berikut:
  • Nomina modifikatif misalnya dua botol, ruang makan dan lain sebagainya.
  • Nomina kordinatif (kata benda saling menerangkan),  misalnya sandang pangan, lahir batin, hak dan kewajiban, sarana dan prasarana, adil dan makmur dan lain sebagainya.
  • Nomina apositif, sebagai keterangan yang diselipkan atau ditambahkan,  misalnya pergi berlibur ke garut, teman sekamarku, Aulia dan lain sebagainya.
3. Verba
Ini sama halnya dengan kelompok nomina di bagi menjadi beberapa kelompok yaitu verma modifikatif, verba kordinatif dan verba apositif.


4. Nominalisasi
adalah proses pembentukan nomina atau kata benda dari kelas yang lain dengan menggunakan istilah tertentu, biasanya sering digunakan pada bahasa yang digunakan untuk menjelaskan isi dari penceritaan ulang. Dalam pembetukan nomina biasanya selalu melibatkan pemberian imbuhan antara lain:

  • Sufiks atau akhiran, seperti misalnya akhiran an, at, si, isme, is or dan tas, sebagai contoh misalnya aku sangat menyukai manisan yang dibuat istriku, atau Dia adalah seorang komikus terkenal di dunia dan lain sebagainya.
  • Prefiks atau awalan, misalnya seperti pe, se, ke, seperti misalnya saya sekantor dengan dia, atau pedagang itu sangat jujur
  • Konfiks atau gabungan awalan dan akhiran,  seperi misalnya ke-an, pe-an dan per-an, misalnya kalimat yang mengandung kata seperti pengaturan, pertunjukan atau kekayaan dan lain sebagainya.
  • Infiks atau sisipan, seperti misalnya el dan er, seperti misalnya kalimat yang mengandung kata seperti gelembung, seruling, telunjuk dan lain sebagainya.


Kaidah teks  cerita sejarah

Kaidah atau aturan teks dalam cerita sejarah biasanya selalu melibatkan kata kerja (verba) material, pronomina atau kata ganti, kata-kata yang menunjukan kejadian atau peristiwa, adanya  dan konjungsi (kata penghubung) temporal. Untuk lebih jelasnya bisa lihat dibawah ini.

  • Pronomina (kata ganti), merupakan kata yang digunakan untuk menggantikan benda dan menamai seseorang atau sesuatu secara tidak langsung.
  • Frasa adverbial, meupakan kata yang menunjukan kejadian atau peristiwa, waktu, dan tempat.
  • Verba material, merupakan kata yang berfungsi untuk menunjukan aktivitas atau perbuatan nyata yang dilakukan oleh partisipan. Kata kerja material menunjukan perbuatan fisik atau peristiwa, misalnya membaca, menulis, dan menyapu.
  • Konjungsi Temporal (kata sambung waktu), berguna untuk menata urutan-urutan peristiwa yang diceritakan, teks cerita sejarah banya memanfaatkan konjungsi (kata penghubung) temporal.

Jenis Isi teks cerita sejarah

Secara umum teks cerita sejarah dapat dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu:

1. Cerita sejarah fiksi yaitu cerita sejarah yang tidak nyata. Jalan cerita pada teks sejarah fiksi disusun berdasarkan kisah dari dunia nyata dan disajian berdasarkan sudut pandang pribadi pengarangnya. Karakter tokoh yang terdapat pada cerita tidak digambakan sepenuhnya. Jenis-jenis cerita sejarah fiksi adalah:
  • Novel
  • Cerpen
  • Legenda

2. Cerita sejarah non fiksi yaitu cerita sejarah yang benar-benar pernah terjadi atau nyata. Jenis-jenis cerita sejarah non fiksi adalah:
  • Biografi
  • Autobiografi
  • Cerita perjalanan
  • Catatan sejarah.

Teks cerita sejarah non fiksi harus berdasarkan bukti dan data-data yang objektif. Penggambaran tokoh di dalam cerita harus ditulis berdasarkan fakta dan data.


Contoh teks cerita sejarah

Salah satu conoh dari teks sejarah misalnya sebagai berikut:

 SEJARAH TERBENTUKNYA PULAU SAMOSIR DANAU TOBA

Siapa yang tidak mengenal Pulau Samosir yang berada di Provinsi Sumatera Utara ini, tentunya anda telah mendengar banyak informasi mengenai Pulau Samosir yang sangat indah dan kaya akan budaya batak ini. Pulau Samosir sudah sangat famous / terkenal bukan hanya di Indonesia saja, melainkan sudah mendunia dan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, khususnya Sumatera Utara.

Pulau Samosir adalah sebuah pulau vulkanik di tengah Danau Toba di provinsi Sumatera Utara. Sebuah pulau dalam pulau dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut menjadikan pulau ini menjadi sebuah pulau yang menarik perhatian para turis. Pulau Samosir sendiri terletak dalam wilayah Kabupaten Samosir yang baru dimekarkan pada tahun 2003 dari bekas Kabupaten Toba -Samosir.

Pulau Samosir merupakan sebuah pulau besar di Danau Toba dimana di Pulau Samosir sendiri terdiri dari enam kecamatan dari sembilan kecamatan yang terdapat di Kabupaten Samosir.  Danau Toba sendiri memiliki panjang 100 km dengan lebar 30 km dan kedalaman bisa mencapai 505 m yang berada di ketinggian 900 meter. Danau Toba merupakan danau terbesar di Indonesia dan danau vulkanologi terbesar di dunia. Pulau Samosir sendiri memiliki luas 640 km2 dan merupakan pulau tengah danau kelima terbesar di dunia.

Danau Toba dan Pulau Samosir terbentuk dari letusan gunung berapi maha dahsyat sekitar 69000 sampai 77000 tahun yang lalu dengan skala 8.0 Volcanic Explosivity Index (VEI) . Skala 8.0 VEI dideskripsikan sebagai letusan supervulkanologi sangat dahsyat yang memuntahkan >1000 km3 material letusan dengan ketinggian letusan mencapai 50km dan mempengaruhi suhu dan kondisi di lapisan toposphere dan stratosphere bumi.

Dahulu Pulau Samosir berada dalam satu daratan dengan Pulau Sumatera, berbentuk sebuah tanjung di Danau Toba. Bagian paling sempit dari Samosir adalah di Pangururan, lebarnya hanya sekitar 300 meter. Warga dulu menyeret perahu agar bisa pindah ke sisi Danau Toba yang satunya, daripada harus memutari Samosir.

Pada era penjajahan Belanda dibangunlah kanal sungai untuk mempertemukan kedua sisi Danau Toba. Perahu bisa lewat dari satu sisi Danau Toba, ke sisi lainnya tanpa memutari Samosir. Dengan kanal itu, terputuslah sudah Samosir dengan dataran Sumatera dan bisa dikatakan telah resmi menjadi sebuah pulau. Area pemotongan Samosir tersebutlah yang disebut dengan Tano Ponggol. Pada awalnya, area Tono Ponggol dibangun sebuah jembatan dengan menggunakan kayu untuk waktu yang cukup lama. Namun kini Jembatan Tano Ponggol sudah dibeton pada tahun 1982. Menurut buku-buku Budaya Batak, Tano Ponggol di “potong” Belanda dengan dua alasan yaitu pertama bertujuan untuk memperlancar transportasi air dan kedua bertujuan untuk memecah belah Bangsa Batak dahulu secara psikologis.